Search This Blog

Saturday, August 13, 2022

MEMULIAKAN ALLAH DALAM SEGALA BIDANG (Roma 11: 36; Filipi 1: 21-22)

Dualisme adalah sebuah paham yang mempercayai bahwa dalam kehidupan manusia ada dua prinsip yang saling bertentangan. Salah satu pemahaman dualisme adalah adanya kawasan hidup yang sakral dan sekular. Wilayah hidup sakral berbicara tentang kawasan hidup yang bersifat spiritual dan rohani, sehingga wilayah kehidupan sakral dipenuhi nuansa dan hiasa-hiasan simbol – simbol keagamaan atau simbol-simbol yang bersifat mistik. Wilayah kehidupan yang sekular berbicara tentang kawasan hidup yang terlepas dari hal-hal spiritual dan rohani, sehingga nuansa wilayah sekular selalu ditunjukkan dengan konteks adanya aktivitas rasional akademik dan ilmiah. Pemahaman dualisme tersebut telah membagi dua konteks kehidupan manusia, wilayah spiritual hanya ditempatkan pada konteks gereja dan wilayah sekular terjadi di luar konteks gereja yaitu pendidikan, politik, ekonomi, hukum dan sebagainya.

Pemahaman dualisme memberikan dampak bagi sikap hidup manusia baik kepada Tuhan dan sesama manusia. Manusia menjadi manusia yang terlihat rohani saat berada pada lingkungan gereja yang dipercaya memiliki nilai sakral dan manusia menunjukkan sikap hormat kepada Tuhan saat berada di gereja. Selanjutnya manusia merasa terlepas dari Tuhan dan merasakan ketiadaan Tuhan ketika tidak berada pada lingkungan gereja, sehingga manusia berani menunjukkan sikap hidup yang melawan Tuhan, hidup yang berdosa, menipu dan hidup tidak bermoral, karena merasa tempat yang umum adalah tempat yang diijinkan untuk melakukan sikap hidup yang berdosa. Bahkan dualisme ini tidak hanya terjadi hanya pada tempat berada, tetapi juga mempengaruhi kehidupan manusia di dalam memahami waktu. Hal tersebut dapat terlihat dari sikap manusia pada hari minggu manusia beristirahat dan merasa bahwa hari ini adalah hari untuk Tuhan dengan pergi ke gereja, jika tidak pergi ke gereja maka terasa ada yang tidak nyaman di dalam hati. Kemudian pada hari-hari raya keagamaan Kristen pada bulan Desember saat hari Natal dan tahun baru menjadi nuansa sakral bagi manusia. Namun pada waktu-waktu yang lain manusia merasakan hari-hari biasa saja tanpa Tuhan.

Ada sebuah Kisah yang dikenal dengan istilah Christmas Truce (gencatan senajata saat natal), yaitu hari Natal 1914 saat Perang Dunia I (The First of World War), terjadi gencatan senjata tidak resmi antara pasukan Jerman dan Inggris. Dikatan tidak resmi karena secara politik pemimpin negara tetap menginginkan terjadinya perang, namun para pasukan yang ada di medan perang membuat inisiatif untuk gencatan senjata merayakan natal. Sebelumnya, pada 7 Desember 1914 Paus Benediktus XV sempat menyarankan berhentinya baku tembak sementara untuk merayakan Natal. Kisah sejarah tersebut menunjukkan pengaruh dualisme tentang suatu hari dalam kehidupan manusia. Selanjutnya apakah ada yang merasakan suasana berbeda saat hari ulang tahun? Atau hari ulang tahun sama saja dengan hari-hari lainnya. Apakah dualisme salah? Ya! Alkitab menunjukkan fakta-fakta adanya realitas dualitas yaitu antara kehidupan yang gelap dan terang, kehidupan rohani dan daging, namun Alkitab tidak menyetujui adanya dualisme yaitu adanya kejahatan dan kebaikkan dari mulanya, adanya gelap dan terang dari mulanya. Karena Allah menjadikan segala sesuatu sungguh amat baik (Kej. 1: 31), meskipun setelah manusia jatuh ke dalam dosa terjadi realita kehidupan di dalam terang dan gelap (lih. Gal. 5: 19-23), namun pada akhirnya kebaikan dan kekudusan yang sempuran pada masa konsumasi (lih. Why. 21: 11-27).

Ketika kita berpikir bahwa gereja adalah tempat yang sakral dan di luar gereja sekular, maka kita perlu melihat bahwa kejahatan dan dosa bisa terjadi di dalam gereja?. Pada tahun 2019 muncul pernyataan dari Paus Fransiskus tentang terjadinya pelanggaran moral di dalam gereja, korupsi terjadi di salah satu gereja di Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa tempat yang dinilai sakral bisa jadi tidak rohani dan tempat yang dianggap sekular justru masih menjaga integritas, contoh universitas Harvard mengedepankan integritas akademik tidak boleh melakukan pelagiat dalam menulis karya ilmiah, bahkan ketertiban dan ketaatan banyak kita lihat dilembaga yang diangap sekular. Dengan demikian ada yang perlu dibenahi dalam pola pikir generasi Kristen masa kini.

Tema malam ini tentang ”Memuliakan Allah Dalam Segala Bidang”. Apa itu memuliakan Allah?. Memulikan Allah adalah segala pikiran, perasaan dan tindakan serta sikap yang memuji dan memfokuskan Tuhan serta melakukan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan. Dengan demikian memuliakan Allah tidak hanya terlihat dalam hal-hal formalitas rohani yang ada di dalam gereja, tetapi di dalam segala tempat, segala waktu dan segala bidang serta kepada siapa saja orang Kristen di dalam pikiran, perasaan dan tindakan selalu memuji, fokus serta melakukan prinsip-prinsip kebenaran. Filipi 4: 8 menyatakan ”jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar”. Roma 11: 36 menyatakan: ”sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, kemuliaan bagi Allah selama-lamanya”. Apa itu kemuliaan Allah?.

Pertama, segala sesuatu adalah dari Allah. Konteks ayat tersebut membicarakan tentang keselamatan yang dari Allah, pemilihan Allah kepada manusia untuk diselamatkan adalah hanya dari anugerah Allah. Perbuatan baik umat Israel, status lahiriah sebagai keturunan Abraham dan sebagai bangsa yang memiliki hukum Taurat tidak dapat menjadi dasar bagi pemilihan Allah ke dalam keselamatan, semua itu hanya anugerah Allah. Dengan demikian kemuliaan Allah nyata dalam anugerah Allah, tidak ada satu pun yang dimiliki oleh manusia tidak dari Allah. Bahkan segala yang ada dalam dunia ciptaan dan hasil pengembangan dunia ciptaan adalah dari Allah, karena permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Ams. 1: 7). Dunia saat ini menjadi maju, ekonomi maju, teknologi maju, sistem komunikasi maju, politik mengalami kemajuan, pendidikan mengalami kemajuan dan pola hidup manusia semakin maju dengan beragam fasilitas modern, itu semua hanya dari Allah. Tuhan membukakan hikmat kepada manusia untuk menusia mengelola alam semesta dan isinya, namun yang menjadi celaka adalah ketika manusia telah memajukan kehidupan manusia melupakan Tuhan yang telah memberikan hikmat dan kebijaksanaan.

Kedua, segala sesuatu oleh Allah. Istilah ”oleh Allah” memiliki arti ”melalui Allah”. Jika melihat konteks maka pemilihan manusia ke dalam keselamatan hanya melalui Allah, tidak ada oknum lain yang melakukan penyelamatan hanya Allah yang bekerja dalam pemilihan. Kemuliaan Allah terlihat ketika manusia mengetahui pemilik otoritas / kekuasaan untuk menyelamatkan hanya karena Allah saja. Seorang raja menjadi mulia ketika otoritas dari raja tersebut diakui dan dilakukan. Namun seorang raja menjadi kehilangan kemuliaannya ketika otoritasnya tidak diakui. Allah menyatakan kemuliaan-Nya karena hanya melalui otoritas-Nya manusia diselamatkan. Teologi Reform adalah Teologi yang mengakui kedaulatan Allah yang menetapkan segala sesuatu, pengakuan terhadap kedaulatan Allah adalah kunci manusia menundukkan diri ketika belajar, kuliah, ujian dan bekerja bahkan hanya karena otoritas Tuhan bisa eksis di dunia. Tetapi zaman ini menjadi celaka jika manusia eksis di dunia namun meremehkan kemahakuasaan Tuhan.

Ketiga, segala sesuatu hanya bagi Allah. Karya pemilihan manusia yag diselamatkan hanya bersumber dari rancangan Allah, hanya melalui Allah dan hanya untuk kemuliaan Allah. Sebuah karya menjadi mulia jika seseorang merancang karya, mengerjakan karyanya dan menyelesaikan karyanya. Namun jika sebuah karya telah dicampuri oleh konseptor lain maka pujian atas hasil karya tertuju kepada beberapa konseptor, sehingga tidak ada kemuliaan yang lebih bagi konseptor pertama. Karena keselamatan dari Allah dan melalui Allah maka segala penghormatan dan kemuliaan sepenuhnya hanya diberikan kepada Allah. Maka doktrin yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa didapatkan dengan kerjasama manusia kepada Tuhan, keselamatan dengan perbuatan baik, keselamatan bisa didapatkan dengan banyak sumbang uang ke gereja dan berbagai alasan lainnya, maka kemuliaan tidak layak diberikan kepada Allah karena manusia turut campur tangan dalam keselamatan. Karena itu karya keselamatan mempermuliakan Allah karena keselamatan adalah anugerah Allah tanpa campur tangan manusia, karena ketika manusia masih berdosa Allah telah merancangkan karya keselamatan (Lih. Roma 5: 8; Ef. 2: 8-9).

Dengan demikian setelah memahami bahwa memuliakan Allah karena kita adalah mansuia yang telah diselamatkan. Maka sejatinya kehidupan kita sebagai anak muda yang telah diselamatkan adalah kehidupan yang mempermuliakan Allah. Filipi 1: 21-22 menyatakan bahwa bagi rasul Paulus hidupnya adalah untuk Kristus dan kalau mati itu sebuah keuntungan, kalimat ini adalah kalimat yang diucapkan rasul Paulus saat ada di Penjara karena pemberitaan Injil. Jadi sangat heran jika ada oarang Kristen yang menyatakan hidup adalah Kristus dan mati ada keuntungan tetapi hidupnya tidak menginjil dan menjadi saksi. Rasul Paulus juga menyatakan bahwa jika harus hidup di dunia, itu artinya hidup memberi buah. Istilah buah dapat menunjuk kepada jiwa-jiwa yang dimenangkan kepada Yesus Kristus dan secara pribadi hidup menunjukkan perbuatan yang sesuai dengan Buah Roh (lih. Gal. 5: 22-23). Hidup yang memberi buah adalah hidup yang mempermuliakan Allah. Abraham Kuyper seorang Teolog yang pernah menjadi Perdana Menteri Belanda (1901 - 1904) menyatakan bahwa "tidak ada satu incipun di dalam dunia ini yang tidak dimiliki oleh Kristus". Pernyataan tersebut merupakan wawasan dunia Kristen yang penting, yaitu bagiamana Kristus dinyatakan pada setiap bidang kehidupan.

Penutup

Hidup orang Kristen adalah hidup yang mempermuliakan Tuhan. Menunjukkan kehidupan yang berbuah secara rohani tidak hanya di gereja, tetapi juga disegala bidang, baik itu bidang pendidikan dan beragam pekerjaan. Kehidupan secara rohani juga dinyatakan kepada siapa saja kita bertemu, sehingga kehidupan orang percaya adalah hidup yang bersaksi. Selanjutnya kehidupan orang percaya juga setiap waktu menjaga diri tetap hidup benar, tidak berbohong dan kudus. Dengan demikian apa pun keadaan kita, dimana pun berada, kapan pun dan kepada siapa pun tidak ada celah untuk dosa menguasai. Jadilah pemuda yang memenangkan zaman dengan menunjukkan kehidupan yang mempermuliakan Tuhan. Jadilah Pemuda yang memenangkan zaman dengan pikiran, hati dan kemauan yang fokus kepada Tuhan. Soli Deo Gloria. 

Made Nopen Supriadi, M.Th., Pelayanan Persekutuan Muda – Mudi (PPMM) GEKISIA Kota Bengkulu, 13 Agustus 2022

Sunday, June 12, 2022

Manusia & Eksistensi

Pilar Hidup Baru kali ini menuliskan judul tentang "Manusia & Eksistensi".Semua manusia memiliki kerinduan keberadaannya diakui oleh sesamanya, kerinduan tersebut tidak serta merta didapatkan oleh semua manusia. Banyak manusia yang merindukan apa yang dilakukan mendapatkan pengakuan dari orang lain dengan predikat yang baik, bahkan banyak manusia yang merindukan apa yang dikatakan didengarkan oleh banyak orang sebagai wujud pengakuan keberadaan dirinya.

Kekecewaan manusia karena tidak diakui keberadaannya menyebabkan banyak manusia menunjukkan sikap-sikap yang beragam dengan tujuan agar dirinya diperhatikan oleh sesamanya. Kita bisa melihat ada seorang anak menangis agar diperhatikan oleh orang tua dan sekitarnya, ada orang yang melakukan tindakan yang berbahaya agar diperhatikan orang lain, ada yang menunjukkan sikap melawan, manja dan cuek itu semua banyak dilakukan agar orang lain memperhatikan dan bahkan ada yang sampai menunjukkan tindakan yang sangat berbahaya sampai-sampai melakukan aksi bunuh diri agar banyak orang memeperhatikan dirinya.

Eksistensi adalah sesuatu yang ada pada manusia dan eksistensi membutuhkan pengakuan dari sesama manusia. Namun perlu kita sadari bahwa dunia yang kita hidupi adalah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa dan dampak dari dosa membuat manusia gagal untuk memperhatikan sesama manusia dengan begitu baik bahkan setiap kita memiliki kecenderungan untuk diperhatikan oleh orang lain.

Hari ini mari kita kembali menyadari bahwa keberadaan kita sejatinya karena Tuhan yang telah menciptakan kita. Keberadaan kita sejatinya ada di hadapan Tuhan dan mempermuliakan Tuhan. Tuhan telah terlebih dahulu menyatakan kasihnya dengan menerima keberadaan kita sebagai manusia yang rapuh, lemah dan kesepian dalam hidup ini. Yesus Kristus telah memberikan jalan bagi kita untuk menyadari keberadaan kita adalah keberadaan di hadapan Tuhan. Karena Tuhan kita hidup, kita bergerak dan kita ada. Keberadaan kita bisa menyenangkan dan melukai sesama, begitu juga sebaliknya. Namun Tuhan ada untuk mengasihi kita dan memulihkan kehidupa kita untuk membangun masa depan. So, mari siaplah dirubah Tuhan untuk membangun masa depan. ~MNS~

Thursday, February 18, 2021

PEMULIHAN KOMITMEN (Matius 22: 31-34)

 

Pada ayat 21 Yesus memberikan pernyataan bahwa orang yang akan menyerahkan-Nya ada bersama di meja perjamuan malam. Mendengar hal itu para murid menjadi bertanya dan terjadinya pertengkaran tentang siapa yang terbesar di antara mereka (ay. 24). Yesus Kristus menyelesaikan masalah tersebut dengan prinsip pemimpin yang melayani (ay. 26).

Pada ayat ke 31 Yesus memfokuskan pembahasan tentang Simon Petrus. Pada ayat ke 31, Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa ia akan menghadapi pencobaan (NIV: 'Satan has asked to sift you'). Penyataan Yesus tersebut menunjukkan bahwa Iblis telah meminta ijin untuk mencobai Petrus. Jika melihat konteks teks dan posisi para Murid maka Simon Petrus adalah pemimpin dari para Rasul. Hal tersebut menunjukkan betapa iblis telah memiliki sebuah rencana untuk mencobai Petrus. Merril C. Tenney menuliskan bahwa pencobaan yang akan dialami oleh Petrus bertujuan agar Petrus mengetahui kekurangan dan kelebihannya. Namun meskipun Petrus akan mengalami pencobaan Yesus Kristus telah memberikan jaminan pemeliharaan akan imannya. Hal tersebut dapat dibaca melalui perkataan Yesus yang berkata: "Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur (NIV: But I have prayed for you, Simon, that your faith may not fail)." Dalam versi NIV menuliskan dengan jelas nama Simon, hal tersebut menunjukkan ada sebuah tindakan khusus Allah untuk menjaga iman dari Petrus tidak gugur. Tenney menjelaskan bahwa Yesus ingin tetap mempertahankan posisi Petrus sebagai pemimpin. 

Ayat 32 mengisahkan tentang Petrus yang menujukkan sikap terlalu percaya diri, ungkapan 'bersedia masuk penjara'  dan 'mati bersama Yesus' menunjukkan sebuah komitmen dari Petrus dalam mengikuti Yesus Kristus. Pada ayat 61-62 menunjukkan bahwa Petrus gagal dalam melakukan komitmennya. Kita bisa membayangkan betapa Petrus mengalami rasa malu yang dalam di hadapan Yesus, ketika apa yang dikatakan telah dilanggar. Terkadang dalam kehidupan manusia sering terjadi hal demikian, ketika kita berkata dan berkomitmen untuk setia justru kejatuhan yang terpedih adalah kejatuhan dalam ketidaksetiaan. Namun jika kejatuhan itu tidak terkait dengan kesetiaan maka kita pasti tidak merasakan sebuah kejatuhan mendalam, karena kita memang tidak pernah melakukan klaim akan sungguh-sungguh dalam hal tersebut.  Meskipun Petrus gagal dalam melaksanakan komitmennya, anugerah Yesus Kristus telah memberikan pemulihan kepada Petrus untuk kembali pada komitmennya. Dengan demikian jika kita pernah mengalami kejatuhan atas komitmen yang kita nyatakan dan masih ada kesempatan yang diberikan  untuk kita melakukan komitmen tersebut, maka kita patut menghargai anugerah tersebut. Pada Yohanes 21: 15-19 menunjukkan bagaimana Petrus kembali dipulihkan komitmennya dalam mengikuti Yesus dan dalam sejarah kehidupannya ia menjadi hamba Kristus yang mati martir dengan cara di Salib Terbalik di Clementia Chapel.

Seorang Pendeta bernama Garu Inrig menuliskan tentang Ibrani 11 selain sebagai "galeri pahlawan iman" juga dapat disebut sebagai galeri "karya pemulihan Allah." Karena dalam tokoh-tokoh tersebut tidak ada tokoh yang bebas dari noda kegagalan. Dengan demikian sebuah kegagalan dan kesempatan kedua mengajarkan bahwa, jika kita bisa ada dalam sebuah pelauyanan Tuhan hanya karena anugerah. (MNS) 

Friday, September 13, 2019

Tidak Kaya, Namun Berguna, Jika Melayani Tuhan (Bilangan 18:21-24)

Fakta Alkitab:
"Tuhan mengijinkan suku Lewi tidak memiliki tanah pusaka di Kanaan, tetapi Tuhan tidak menilai suku Lewi tidak berguna, Tuhan menghendaki suku Lewi setia melayani di Kemah Pertemuan." (Bilangan 18:1-32)

      Suku Lewi dipilih Tuhan untuk membantu Harun dan Anak-anaknya melayanin di kemah Pertemuan, namun Allah menetapkan peraturan kepada suku Lewi, bahwa mereka tidak memiliki tanah pusaka. Namun Tuhan memakai khusus suku Lewi untuk melayani Tuhan sebagai imam bagi seluruh suku Israel. Kondisi demikian memperlihatkan bahwa Suku Lewi tidak memiliki tanah pusaka, namun Tuhan bukan berarti membiarkan mereka tidak berguna, Tuhan memiliki sebuah ketetapan untuk memakai suku Lewi melayani di Kemah Pertemuan.
        Yesus Kristus juga menyatakan bahwa Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, namun kehadiran Yesus Kristus pada zaman-Nya sangat memberikan arti, bahkan Yesus sekalipun Ia tidak memiliki harta kekayaan, bukan berarti keterbatasan itu membuat keberadaan-Nya tidak berguna. Justru Yesus Kristus pada puncak pelayanan-Nya di dunia, menjadikan diri-Nya perantara antara manusia dengan Allah Bapa, melalui kematian-Nya di Kayu Salib. Dengan demikian memperlihatkan bahwa Yesus melayani dengan setia sampai akhir hidup-Nya. Para Murid Tuhan Yesus juga menghadapi kondisi demikian, mereka tidak memiliki harta kekayaan, namun mereka terus memberitakan Injil sampai akhir kehidupan mereka.

Refleksi:
       Terkadang kita berkecil hati karena kita tidak memiliki harta kekayaan, dan membuat sebuah penilaian bahwa kita tidak berguna, bahkan sesama kita bisa menilai kita tidak berguna karena tidak memiliki harta kekayaan, namun Tuhan tidak menilai kita demikian, karena dibalik keadaan tersebut Tuhan sedang melaksankan kehendak-Nya atas hidup kita, yaitu agar kita setia melayani-Nya. Maka Tuhan membuat kita bernilai bukan karena materi yang ada pada kita, tetapi karena Tuhan mau pakai kita untuk setia melayani-Nya maka itu adalah sebuah nilai yang paling berharga diberikan Tuhan. Pdt. Stephen Tong pernah berkata saat dia menjawab pertanyaan: "mengapa bapak tidak mencalonkan diri sebagai presiden?". Beliau menjawab: "Jangan turunkan harga diri saya, Presiden dipilih rakyat dan menjadi hamba bagi rakyat, tetapi saya dipilih Tuhan menjadi hamba Tuhan untuk melayani Tuhan. Maka nilai sebagai hamba Tuhan lebih tinggi dari jabatan presiden.". Mari kita yang telah dipilih menjadi hamba-Nya, setialah melayani Tuhan sampai akhir kehidupan (Why. 2:10b).

"Tuhan mengijinkan kita tidak memiliki harta kekayaan, tetapi Tuhan tidak menilai kita tidak berguna, Tuhan menghendaki kita setia melayani-Nya" Soli Deo Gloria

Thursday, September 12, 2019

Tuhan Menyakinkan Orang Pilihan-Nya (Bilangan 17:1-13)

"Tuhan mengijinkan ada orang-orang yang pesimis terhadap pelayanan kita, tetapi Tuhan tidak menghendaki kita menjadi pesimis dalam melayani, Tuhan menghendaki kita tetap optimis melayani-Nya."

       Status Harun sebagai imam diragukan oleh banyak umat Israel, sikap demikian merupakan sikap pesimistis yang dilakukan umat Israel terhadap status Harun sebagai Imam. Dalam kondisi demikian Tuhan tidak menghendaki Harun menjadi pesimis atau ragu untuk melayani sebagai Imam, karena itu Tuhan sendiri memberikan pertolongan kepada Harun yang mewakili orang Lewi (ay. 3). Tuhan memberikan perintah kepada Musa, bahwa Ia akan memberikan sebuah tanda siapa yang sesungguhnya dipilih-Nya untuk menjadi Imam. Tuhan memerintahkan agar semua pemimpin suku Israel megumpulkan tongkat dan diberikan nama para pemimpin setiap suku dan diletakkan di Kemah Pertemuan (ay. 4-7). Siapa tongkat yang berbunga maka itulah orang yang dipilih dan ditetapkan oleh Tuhan sebagai imam. Pada keesokkan harinya Tuhan menyatakan pilihan-Nya bahwa tongkat Harunlah yang bertunas, berbunga dan berbuahkan buah badam. Bunga badam berwarna putih, warna putih melambangkan kebaikan, kesucian, otoritas dan keilahian. Baju imam yang akan masuk ke Ruang Maha Kudus pada hari arya pendamaian (Ima 16:4, ‘kemeja lenan yang kudus’ = ‘white linen’). Tanda yang dinyatakan oleh Tuhan tersebut menunjukkan, bahwa Tuhan menghendaki Harus tetap optimis melayani-Nya sebagai imam.

       Yesus Kristus juga mengalami hal demikian, banyak manusia yang pesimis (meragukan) Kemesiasan-Nya, namun Yesus tidak berhenti untuk melayani manusia, Yesus tidak mundur untuk melayani, Ia tidak menyerah untuk menolong manusia, Ia tidak berhenti untuk mengampuni, sekalipun manusia yang meragukan-Nya berteriak: "Salibkan Dia!". Yesus tetap optimis menyatakan kasih-Nya ditengah dunia yang meragukan Dia. Belajar dari Yesus, kita mungkin sudah merasa melakukan hal yang paling baik dan benar, namun banyak orang yang meragukan kita, namun jangan menjadi minder dan mundur untuk melayani mereka dengan baik dan benar, dan yang paling utama jangan pernah minder dan mundur untuk menyatakan kasih Allah kepada mereka.

       Dalam kehidupan pelayanan, pekerjaan dan pergaulan, seringkali kita menjadi orang yang diragukan, bahkan tidak diperhitungkan. Namun percayalah bahwa ketika Tuhan menetapkan kita hidup di dunia, Tuhan juga sudah memberikan potensi dalam hidup kita, terkadang potensi tersebut diragukan oleh sesama kita, namun Tuhan tidak menghendaki kita menjadi minder dan mundur dalam melayani Tuhan. Percayalah Tuhan memiliki jutaan cara untuk menyakinkan kita, sebagai orang yang dipilih-Nya, Ia memampukan kita. Saya teringat tulisan Pdt. G. Sudarmanto yang menuliskan: "Tuhan bukan hanya memilih orang-orang yang mampu, tetapi Tuhah juga memampukan orang-orang yang dipilih-Nya." Soli Deo Gloria

Wednesday, September 11, 2019

Berdoa Bagi Orang Yang Membenci

"Tuhan mengijinkan orang-orang disekitar kita menentang kita, tetapi Tuhan tidak menghendaki kita membenci mereka, Tuhan menghendaki kita berdoa bagi mereka"
(Sebuah refleksi Bil. 16:1-49, Bdg. Mat. 5:44)
Ketika Korah dan segenap umat Israel menentang Musa dan Harun dan Tuhan akhirnya menghakimi Korah dan keluarganya sehingga mereka ditelan bumi. Kemudian segenap umat israel marah dan ingin menentang Musa dan Harun, namun Tuhan siap untuk memusnahkan umat yang menentang tersebut, namun Musa datang dan berdoa kepada Tuhan serta menyuruh Harun melakukan pendamaian kepada Tuhan bagi umat Israel, sehingga tulah yang akan memusnahkan seluruh umat Israel berhenti.
Demikian juga dengan kehidupan Tuhan Yesus, ada banyak orang yang menentangnya, tetapi Yesus tidak membenci mereka, justru Ia berdoa bagi mereka: "Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk. 23:34).Stefanus juga demikian, ada banyak yang menentangnya, namun ia tidak membenci mereka justru mendoakan mereka agar Tuhan mengampuni mereka (KPR. 7:60). Jadi benarlah yang dikatakan Tuhan Yesus kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu.
Soli Deo Gloria

Saturday, May 11, 2019

Benda-Benda Penerang (Kejadian 1:14-19)

         Manusia pasti tahu, apa itu Matahari, Bulan dan Bintang-bintang. Ya mereka adalah benda-benda penerang bagi bumi ini. Benda-benda tersebut adalah ciptaan Allah. Namun apakah fungsi dari benda-benda tersebut?. Beberapa kelompok manusia menilai benda-benda tersebut sangat unik dan mengagumkan sehingga ada yang menjadikannya sebagai obyek penyembahan. Dalam penciptaan hari ke empat ini Allah memberikan kejelasan fungsi dari benda-benda penerang yang diciptakan-Nya.
        Sebelum terang hari pertama belum dihiasi oleh benda-benda penerang, terang itu belum berguna bagi manusia. Berikut kegunaan benda-benda penerang tersebut:
1. Benda-benda tersebut berguna sebagai penunjuk waktu.
          Ayat 14 meyatakan: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun". Jadi benda-benda penerang tersebut diciptakan sebagai tanda penunjuk waktu. Perkembangan teknologi dalam penghitungan waktu ini saat ini tidak terlepas dari pengamatan terhadap peredaran bumi mengelilingi matahari selama 365 hari, sehinggga ditetapkan masa satu tahun, dan masa untuk perbulannya menggunakan patokan bulan mengelilingi bumi selama 30/31 hari. Dan masa untuk hari-hari berdasarkan dari rotasi bumi yang membentuk pola terbitnya matahari di timur dan terbenam di barat. Secara prinsip perkembangan ilmu sains dalam memahami waktu sudah ada idenya pada awal mula penciptaan benda-benda penerang.
        Melalui waktu yang Allah tunjukkan ini manusia diingatkan bahwa segala sesuatu ada masanya (Pkh. 3:1). Tidak ada satu pun manusia yang mampu mengulangi satu detik waktu, oleh karena itu mari kita terus merenungkan makna kehidupan kita dalam waktu yang Tuhan sudah berikan, Musa berkata: "Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana" (Maz. 90:12).
2. Benda-benda tersebut berguna sebagai penunjuk Musim.
       Selain menunjukkan waktu, benda-benda penerang tersebut juga berguna manjadi penujuk musim. Musim dingin, musim panas, musim gugur, musim semi semua dipengaruhi oleh benda-benda penerang itu. Iklim sebuah tempat di bumi juga dipengaruhi oleh kehadiran benda-benda penerang tersbut. Matahari memberikan pengaruh pada iklim, jika ia tidak menyinari bumi, maka bagian tersebut akan menjadi terasa dingin, jika ia menyinari maka bagian tersebut akan menjadi hangat. Lalu Bulan juga memberikan pengaruh kepada pasang surutnya air laut, sehingga manusia bisa menentukan kapan untuk melaut. Bintang-bintang juga memiliki variasi bentuk yang khas yang bisa ditandai dan diingat manusia karena setiap musim formasi bintang yang terlihat juga berbeda.
         Mazmur 74:16-17 menyatakan: "Punya-Mulah siang, punya-Mulah juga malam. Engkaulah yang menaruh benda penerang dan matahari. Engkaulah yang menetapkan segala batas bumi, musim kemarau dan musim hujan Engkaulah yang membuat-Nya."Allah menciptakan benda-benda penerang untuk menambah hikmat manusia dalam menguasai bumi dan alam semesta ini, melalui benda-benda penerang itulah dimasa mendatang manusia dapat mengerti kapan waktu menanam, kapan waktu menuai dan kapan waktu beristirahat dan bersyukur kepada-Nya.
3. Benda-benda tersebut berguna sebagai pemberi terang.
         Yang paling penting ialah benda-benda penerang diciptakan untuk memberikan terang. Terang yang hadir di bumi inilah yang menolong kehidupan nantinya untuk dapat melakukan kegiatan mereka. Terang inilah yang membuat manusia dapat melihat keadaan bumi ini, dan dapat melihat apa yang baik dan jahat serta dapat menentukan apa saja yang harus dilakukan dalam mengelola ciptaan. Terang itu berguna untuk mengatur kehidupan manusia, agar saat ada cahaya siang oleh matahari manusia terbangun dan bekerja, namun ketika terang itu sudah digantikan oleh bulan dan bintang-bintang, maka manusia beristirahat (Lih. Mat. 16:2-3;Yoh. 9:4). 
         Mazmur 136:7-9 menyatakan: "Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Matahari untuk menguasai siang; bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Jadi jika kita masih bisa melihat keteraturan benda-benda penerang dalam menyinari Bumi maka itu mengingatkan kita bahwa Allah masih menunjukkan kasih setia-Nya kepada seluruh ciptaan-Nya (Bdg. Mat. 5:45).
Aplikasi:
1. Mari kita bersyukur atas benda-benda penerang yang diciptakan Allah untuk melayani manusia. 
2. Sikap manusia terhadap benda penerang bukanlah menyembahnya sama dengan Allah.
3. Jangan ragu terhadap janji Tuhan, karena janji-Nya seperti fajar dipagi hari.
4. Gunakanlah waktu dan musim yang ada dengan bijaksana.
5. Muliakanlah Allah dalam segala waktu.
Soli Deo Gloria. (MNS).

Re-PilaR (Renungan Pilar Reformasi) Edisi ke 5

Friday, May 10, 2019

Allah Pemberi Pertumbuhan (Kejadian 1:9-13)

      Dalam penciptaan hari ke 3, Allah memisahkan air yang menutupi bumi, sehingga terbentuklah daratan dan lautan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia nantinya akan tinggal di daratan yang dibentuk oleh Allah (Maz. 95:5; Yun. 1:9). Karena darimulanya lautanlah yang menutupi daratan di bumi sehingga seringkali lautan dimaknai sebagai permasalahan dan penderitaan (Maz. 42:8; 69:3, 15-16). Dalam fakta Alkitab memperlihatkan air laut juga sering menjadi sarana penghukuman Allah, dalam kisah Nuh (Kej. 7), Ketika umat Israel dalam perjalanan keluar dari Mesir dan dikejar oleh Firaun dan tentaranya, kemudian mereka berhadapan dengan laut teberau dan menjadikan itu sebagai pergumulan, namun jangan heran jika Allah membelah lautan tersebut (Kel. 14:15-31), karena darimulanya Allah telah menunjukkan kuasanya untuk memisahkan daratan dan lautan, selanjutnya terbelahnya sungai Yordan saat pengakut Tabut Allah melewatinya (Yos. 3), menunjukkan bahwa memang Allah berkuasa melakukan itu, Kisah Yunus yang mana Allah memakai gelombang laut untuk menegurnya yang ada di dalam kapal saat hendak melarikan diri ke Tarsus (Yun. 1). Dan dalam Perjanjian Baru memperlihatkan bagaimana gelombang laut dapat diredakan oleh Tuhan Yesus menunjukkan karya-Nya yang sama dengan Allah mampu mengatur lautan menunjukkan bahwa Ia adalah Allah itu sendiri, karena ciptaan yaitu laut yang sulit ditaklukan oleh tenaga manusia tunduk pada-Nya (Matius 8:23-27). Secara prinsip rohani apa yang dilakukan Allah memisahkan lautan dari daratan, namun keduanya tetap berdampingan, bahkan lautan yang awalnya menutupi daratan tetap tidak mampu menutupi daratan jika Tuhan masih tidak menghendakinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah juga dapat memisahkan penderitaan dari tempat hidup manusia, tetapi penderitaan tersebut tetap berdampingan dan mengiringi kehidupan namun jika Allah masih menjaga maka manusia tidak perlu kuatir.
      Selanjutnya setelah daratan dibentuk Allah memberikan perintah agar tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuhan-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon buah-buahan. Meskipun Allah memanfaatkan sarana sekunder untuk hadirnya tumbuh-tumbuhan yaitu tanah, namun pertumbuhan semua tanaman tersebut tetaplah karena kuasa Allah. Meskipun diwaktu mendatang Allah memakai sarana sekunder juga untuk memberikan pertumbuhan yaitu embun dan matahari (Ul. 33:13-14). Hal tersebut menunjukkan bahwa sumber pertumbuhan adalah Allah sendiri (Bdg. 1Kor. 3:6). Jika bumi masih ada atas perintah Allah maka pertumbuhan juga terjadi atas kuasa-Nya. Jika pertumbuhan tumbuhan ada dalam kuasa Allah maka begitupun pertumbuhan rohani juga ada dalam kuasa-Nya. Seperti Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, demikian juga Allah akan menumbuhkan benih Injil yang telah tertanam dalam hati setiap orang.
Aplikasi:
1. Kehidupan di daratan tetap ada karena Allah yang memelihara.
2. Allah sumber pertumbuhan dan Ia dapat melakukan-Nya dengan kuasa-Nya sendiri tanpa perantara.
3. Bersyukur jika saat ini Allah memberi pertumbuhan kepada apa yang kita usahakan dan tanam, dan terlebih lagi Allah memberi pertumbuhan rohani serta benih Injil dihati manusia saat ini.
4. Mari muliakan Tuhan dalam kehidupan ini, karena kita hanya menggunakan apa yang diciptakan oleh Tuhan, tetapi hak milik sejatinya tetap ada pada-Nya. Soli Deo Gloria (MNS)

Re-PilaR (Renungan Pilar Reformasi) Edisi ke 4.

Thursday, May 9, 2019

Pandanglah Langit Dan Ingatlah Sang Pencipta (Kejadian 1:6-8)

      
Tuhan Berfirman "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air". Cakrawala adalah lengkung langit; kaki langit (tempat bintang-bintang). Cakrawala ini mencakup semua yang kelihatan di atas bumi, ai antara bumi dan langit ketiga: udara, ruang-ruangnya yang lebih tinggi, yang di tengah-tengah, dan yang lebih rendah - bola angkasa, dan semua benda-benda penerang di atas yang melingkar dan bulat. Cakrwala ini menjangkau tempat yang tinggi setinggi tempat di mana bintang-bintang terpasang dan menjangkau tempat yang rendah serendah tempat di mana burung-burung berterbangan. Cakrawala dinamai langit dan itulah yang dapat kita lihat saat ini. Jadi udara sebagai wadah dan pengantara antara tempat yang tinggi dengan tempat yang rendah. 
        Dalam Ayub 22:12 dan Yehezkiel 1:26 digambarkan bahwa Allah bersemayam di atas cakrawala. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketika kita melihat tingginya langit kita memikirkan tentang Bapa di Sorga. Tingginya langit haruslah mengingatkan kita akan kedaulatan Allah dan jarak tak terkira yang terentang di antara kita dan Dia. Kecemerlangan langit haruslah mengingatkan kita akan kemuliaan-Nya, kebesaran-Nya dan kekudusan-Nya yang sempurna. Luasnya langit yang melingkupi bumi dan mempengaruhi bumi mengingatkan kita akan pengaruh dan pemeliharaan Tuhan atas bumi.
Aplikasi:
Roma 1:19-20 menyatakan bahwa "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakan bagi mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya. dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." Kita tidak dapat berdalih memikirkan Tuhan dan kita harus terus menyadari menyatakan bahwa Ia ada saat kita melihat cakrawala yang Indah, dan kita juga dapat memikirkan keadilan Tuhan saat kita melihat cakrawala yang gelap. Oleh karena itu jangan pernah lupakan Tuhan dengan memberikan berbagai argument dan alasan yang ingin membela bahwa Ia tidak ada bagi kita.Mari kita hidup memuliakan Tuhan.Soli Deo Gloria (MNS)

Re-PilaR (Renungan Pilar Reformasi), Edisi ke 3

Wednesday, May 8, 2019

Allah Memberi Terang (Kejadian 1:2-5)

      Dalam teks Firman Tuhan menuliskan bahwa 'bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya', tidak bisa diartikan adanya kehancuran bumi oleh karena iblis atau adanya kehancuran pada bumi yang sebelumnya (gap theory). Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Allah belum melakukan penataan pada bumi. Selanjutnya 'ungkapan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air' menunjukkan kondisi bumi yang masih belum tertata, daratan belum ada bahkan terang juga belum ada. Namun dalam ayat 3 Allah menjadikan terang, ketika Allah menjadikan terang belum ada benda penerang karena itu Allah sendirilah sumber terang itu (Bdg. 1Tim. 6:16, 1Yoh. 1:5). Dengan demikian terang yang Allah berikan memisahkan bumi dari kegelapan, dan Allah sendiri memulai adanya waktu dalam dunia ini. Allah memulai menata dunia ini dengan memberi terang kepada dunia yang gelap.
         Dalam Yohanes 8:12 Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia adalah terang dunia, dan barangsiapa mengikut Dia tidak akan berjalan di dalam kegelapan, melainkan mempunyai terang hidup. Sama seperti dunia yang pada permulaan penataan diberikan terang oleh Tuhan. Maka Yesus Kristus pun juga akan memberikan terang ketika menuntun kehidupan kita. Karena itu jika Kristus hidup dalam diri kita maka kegelapan akan sirna dalam hati kita.
Aplikasi:
1. Allah menata bumi dengan memberikan terang yang bersumber dari Diri-Nya sendiri.
2. Allah juga akan memberikan terang ketika menata kehidupan kita pertama kali yaitu Yesus Kristus.
Soli Deo Gloria. (MNS)

Re-PilaR (Renungan Pilar Reformasi) Edisi 02

Monday, May 6, 2019

Segala Sesuatu Dimulai Oleh Allah (Kej. 1:1)


        Dalam Kejadian 1:1 menuliskan: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi". Istilah 'pada mulanya' (bereshith) menunjukkan saat sebelum ada waktu, memasuki wilayah tak terselami dari kekekalan, sekalipun tidak ada kata yang bisa dipakainya untuk mengemukakan keadaan sebelum ada waktu. Selanjutnya kata 'menciptakan' (bara) adalah kata kerja yang hanya dipakai untuk Allah. Manusia tidak mungkin mencapai kuasa-kuasa yang terkandung dalam istilah ini, sebab kata ini menggambarkan mukjizat sempurna.
         Jadi Alkitab menunjukkan bahwa permulaan waktu dimulai dari Allah, tidak ada hal yang tidak dimulai oleh Allah. Allah yang berinisiatif mengadakan sesuatu. Oleh karena itu hendaknya kita tidak melupakan Allah dalam segala sesuatu. Jika segala sesuatu dimulai dari Allah maka segala hal yang kita lakukan hendaknya juga memulai di dalam Dia.
Aplikasi:
         Mari kita bersyukur untuk banyak hal yang dapat kita kerjakan dalam hidup ini. Namun sebelum memulai mengerjakan banyak hal tersebut, mari kita memulainya bersama dengan Allah, mari kita berdoa kepada-Nya. Muliakanlah Allah terlebih dahulu sebelum kita membanggakan apa yang akan kita peroleh dan kerjakan hari ini.Soli Deo Gloria (MNS)

Re-PilaR (Renungan Pilar Reformasi) Edisi 01